Bukan cuma Gen Z yang selalu di-stereotype-kan dengan generasi yang rentan mental health, tapi denerasi X dan baby boomers yang secara psikologis teorinya jauh lebih dewasapun juga tak lewat terpapar dengan mental health atau kesehatan mental, sebuah fenomena yang sebenarnya sudah ada sejak lama tapi sekarang mencuat karena istilah yang kelewat overuse digunakan.
Kembali ke topik mental health yang bisa dipastikan banyak yang mengetahui diksi ini saat mengkonsumsi konten di social media, bukan dari yang benar-benar membaca buku terkait mental health. Yang perlu digaris bawahi adalah hubungan antara kesehatan mental dengan paparan kita dengan social media. Sudah bukan rahasia lagi tentang kehidupan orang lain yang tampak sempurna di social media tapi belum tentu aslinya seperti itu alias hanya act for content saja: postingan penuh kebahagiaan, pencapaian, dan momen spesial. Untuk kamu yang belum mempunyai point of view yang terlalu luas mungkin bertanya-tanya: “Apakah hidupku cukup baik?”. Perasaan cemas, tidak puas, dan stres perlahan-lahan muncul tanpa disadari, kelihatannya sepele dan sementara, ternyata itu benar-benar berdampak ke kesehatan mental kita.
Dampak Negatif Social Media
Screen-time di social media yang berlebihan dapat membawa dampak buruk pada kesehatan mental, tidak hanya fisik. Menurut sebuah studi dari Journal of Social and Clinical Psychology:
- Peningkatan waktu yang dihabiskan di platform seperti Instagram dan Facebook berhubungan langsung dengan peningkatan kecemasan dan rasa tidak percaya diri
- Fitur seperti like, comment, dan follow menciptakan ekosistem yang menumbuhkan perbandingan sosial, di mana pengguna sering membandingkan hidupnya dengan orang lain.
Selain itu, cyberbullying atau perundungan di dunia maya juga menjadi masalah serius yang sering muncul di social media. Tidak sedikit orang mengalami pelecehan atau komentar negatif yang mengganggu kesehatan mental mereka. Karena kita tahu, tidak semua pengguna social media mempunyai kedewasaan secara psikologis sehingga siap menghadapi interaksi negatif di luar sana. Terlebih lagi, konten yang disebarkan secara viral bisa menimbulkan efek FOMO (Fear of Missing Out), yaitu ketakutan akan ketinggalan tren atau momen penting, yang memperparah stres dan kecemasan.
Kata Ilmuwan tentang Efek Social Media
Beberapa riset mencoba menggali lebih dalam dampak social media terhadap kesehatan mental. Sebuah penelitian dari American Psychological Association menemukan bahwa
pengguna yang mengurangi waktu penggunaan social media hanya selama 30 menit sehari menunjukkan penurunan signifikan dalam tingkat depresi dan kecemasan.
Selain itu, riset dari University of Pennsylvania menemukan bahwa
orang yang membatasi akses ke platform-platform seperti Instagram dan Snapchat merasa lebih puas dengan hidup mereka.
Penelitian lain menyoroti dampak ke gaya hidupnya antara pola tidur dan social media. Aktivitas di platform digital pada larut malam seringkali mengganggu kualitas tidur, yang berimbas pada kesehatan mental secara keseluruhan. Tanpa tidur yang cukup dan berkualitas, seseorang lebih rentan terhadap gangguan emosional seperti mudah marah atau merasa tertekan. Ternyata aspek fisikpun juga terkena imbasnya.
Cara Mengurangi Dampak Buruk Social Media
Dari beberapa dampak yang sudah dijabarkan, bukan berarti kita harus menghapus akun social media dan menjauhi teknologi. Ada cara cerdas dan strategis untuk tetap terhubung dengan dunia digital tanpa mengorbankan kesehatan mental.
- Batasi Screen Time
Kamu bisa menggunakan aplikasi pengatur waktu atau fitur screen time untuk memantau dan membatasi penggunaan social media harian. Minimal kamu sudah merencanakan berapa lama alokasi yang pas untuk mengakses social media. - Kurasi Konten yang Dionsumsi
Unfollow atau mute akun-akun yang membuat kamu merasa cemas atau tertekan ketika melihat kontennya, apapun alasannya, misalnya dengan konten dia kamu menjadi merasa kecil karena membandingkan dengan kondisimu. Pilih akun yang memberikan inspirasi dan informasi positif. - Hari Tanpa Social Media
Jadwalkan hari tertentu dalam seminggu untuk tidak menggunakan social media sama sekali, bahasa kerennya adalah “social media detox”, tapi ini tidak yang berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Ini membantu pikiran beristirahat dan fokus pada hal-hal di luar dunia digital. - Prioritaskan Real-Life Interraction
Ketika ada waktu tidak mengakses social media, alihkan waktu itu untuk bersosialisasi secara langsung dengan teman dan keluarga, kamu bisa juga sekedar bertelepon atau video call dengan teman dan keluarga. Koneksi emosional langsung dan di dunia nyata jauh lebih bermakna dan membantu mengurangi rasa kesepian. - Dukungan Psikolog
Jika kamu ada di level yang butuh bantuan dari orang lain ****untuk menangani masalah emosional, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikiater. Terapi profesional dapat membantu kamu mengembangkan strategi yang tepat.
Menariknya, fenomena tentang dampak social media ini juga ditangkap oleh perusahaan yang membangun social media. Beberapa platform mulai menerapkan fitur seperti hide like counts atau menyediakan filter komentar untuk mencegah bullying. Tidak sedikit juga konten yang mengkampanyekan penggunaan social media yang lebih sehat, seperti #DigitalDetox dan #SelfCareSunday.
Ingat bahwa kamu sudah seharusnya memiliki kendali penuh atas bagaimana social media memengaruhi hidupmu. Dengan strategi yang tepat, kamu tetap bisa menikmati manfaat dari social media tanpa harus mengorbankan kesehatan mental. Jangan biarkan algoritma dan tren mengendalikan kamu.