Apa yang bisa dilakukan oleh guru dan siswa selama 3 tahun di sekolah? Hanya proses belajar mengajar seperti biasa?

Pada umumnya, begitulah yang terjadi. Proses belajar mengajar secara umum saja. Guru mengajar, murid belajar. Guru memberi ujian, murid mendapatkan nilai. Hal-hal yang sewajarnya terjadi. Salah? Tidak juga. Karena pada umumnya ya begitu. Tapi adakah hal lebih yang bisa dilakukan. Tentu saja ada. Bahkan banyak.

Pernahkah terpikirkan untuk berkolaborasi antara guru dan murid?

Ada sebuah karya tulis sederhananya yang berjudul Berguru, Konsep Akselerasi dalam Hidup dan Dakwah karya Rezky Firmansyah menuliskan tentang ide 1 guru 1 murid. Singkatnya, ide ini menjelaskan bagaimana seorang guru harus mengajarkan minimal satu murid. Begitu pula seorang murid, harus belajar ke minimal satu guru.

“Hanya satu guru dan satu murid? Sedikit sekali?”

Kalau kacamata yang digunakan adalah proses belajar dan mengajar di kelas, tentu angka 1 guru dan 1 murid sangat sedikit. Karena faktanya, dalam satu waktu seorang guru bisa mengajar lebih dari 20-an murid. Dalam sekolah tersebut, murid pun mendapatkan banyak guru dari berbagai mata pelajaran. Tapi kacamata yang digunakan tidak seumum itu. Karena output dari ide 1 guru 1 murid ini adalah kaderisasi. Bisakah seorang guru menjadikan muridnya lebih baik dibandingkan dirinya sebelumnya secara khusus? Begitulah tantangannya kira-kira.

Seorang guru mengajarkan secara khusus kepada satu murid. Seorang murid menjadikan seorang guru sebagai favoritnya sebagai tempat berguru. Maka harapannya, bukan hanya proses belajar mengajar saja yang terjadi. Apalagi hanya nilai angka-angka saja. Hal tersebut begitu remeh terlihat.  Hal yang harus dipikirkan adalah, kolaborasi apa yang bisa dihadirkan antara guru dan murid tersebut? Berikut adalah beberapa ide yang bisa digunakan oleh guru dan murid.

1. Buku Kolaborasi

Guru pasti punya banyak pengalaman. Hanya saja, seringkali memiliki waktu yang terbatas. Bagi murid, malah sebaliknya. Pengalamannya belum seberapa, tapi waktu, ide, dan energi yang dimiliki seolah tak terbatas.

Guru dan murid bisa berkolaborasi dengan menulis buku. Murid yang menuliskan pengalaman, gagasan, dan pemikiran gurunya. Dengan begitu, seorang murid bisa mendapatkan ilmu lebih banyak dari gurunya yang tidak dibagikan kepada orang lain sebelumnya.

2. Khidmat Bersama Da’i

Ada yang menyebutnya ulama. Ada juga yang menolak disebut ulama. Mereka lebih nyaman disebut ustadz atau da’i. Guru dan murid pun pada dasarnya da’i. Tapi mari kita ambil contoh da’i dalam konteks yangl lebih umum. Mereka yang biasanya berceramah.

Apa yang dilakukan semasa khidmat bersama da’i? Ada banyak proyek dakwah yang dihasilkan. Terutama dalam penyebaran dakwah. Di social media bisa dilihat akun @Oemar_Mita yang dikelola dengan sangat baik oleh Syameela Channel. Begitu juga dengan @BuyaYahya_Albahjah dengan Al-Bahjah TV.

Ada banyak guru yang menunggu kesempatan untuk tersebarnya kebaikan. Murid harusnya menjemput peluang tersebut. Menghasilkan proyek kebaikan bersama untuk umat.

3. Magang Bersama Expert

Konsep berguru bukan hanya bisa diterapkan dalam dakwah antar masjid ke masjid. Sebagai pribadi Muslim yang hidup dan berkarya di berbagai sektor pun membutuhkan konsep ini. Hanya ada perbedaan pada istilah. Biasanya disebut mentoring.

Magang bersama expert adalah proses mentoring dalam jangka waktu yang lebih singkat. Misalkan bagi mahasiswa di semester tertentu diwajibkan untuk magang di institusi tertentu. Bisa di perusahaan, sekolah, yayasan, atau berbagai institusi lainnya. Setelah magang selesai, ditutup dengan penyusunan laporan. Setelah itu apa? Selesai.

Seharusnya magang tidak hanya sesederhana itu. Ada proses kelanjutan baginya untuk menindaklanjuti apa yang sudah dimulai. Termasuk berinteraksi dengan expert yang ditemui dalam proses magang.

Ada juga magang yang tidak diwajibkan di dunia perkuliahan. Biasanya fresh graduate mengambil kesempatan ini. Tujuannya pun lebih kurang sama dengan semasa menjadi mahasiswa terlebih dahulu. Hanya saja mungkin lebih jelas tujuannya. Ingin berguru langsung dengan pemilik perusahaan misalkan.

Orangtua atau guru pun bisa dijadikan sebagai tempat magang. Jika dirasa tidak cocok, mereka bisa menyarankan kenalannya sehingga sang anak dan murid bisa magang di tempat terbaik. Bukankah Rasulullah SAW pun pernah magang berdagang kepada pamannya Abu Thalib?

Guru dan murid harusnya bukan hanya sebatas hubungan formal di sekolah saja. Tapi hubungan emosional yang bisa berkolaborasi dan berbuat untuk umat. Siapkah?

Share This

Share This

Share this post with your friends!