Jika ditanya, siapa tokoh pahlawan nasional perempuan, kira-kira siapa saja jawaban yang terpikirkan oleh kita?

“Kartini”

“Cut Nyak Dien”

“Hmmm.”

Informasi kita seolah terbatas terhadap tokoh pahlawan nasional perempuan. Padahal peran mereka tidak layak kita anggap sebelah mata.

Tapi jika kita melihat dari perspektif yang berbeda, ada hal menarik yang bisa kita temukan. Kenapa ada peringatan Hari Kartini tapi tidak dengan tokoh perempuan lain? Kenapa nama Kartini begitu dipopulerkan tapi tidak dengan tokoh perempuan lain?

Tentu kita tidak perlu mendiskreditkan sosok Kartini. Karena bagaimanapun, peran beliau di masa lalu cukup besar dan bisa dirasakan hingga sekarang. Tapi keliru juga kita terlalu mempopulerkan sosok Kartini tapi abai dengan tokoh perempuan lainnya.

Tahukah Anda dengan perempuan bernama Rahmah El Yunisiah?

Mungkin baru pertama kali Anda mengetahui nama ini. Pun jika pernah sebelumnya, infonya sangat sedikit sekali. Tapi siapakah beliau?

Coba ketik “Rahmah El Yunisiah” di Google. Telusuri gambarnya. Coba perhatikan, sosok seperti beliau ada di zaman 1900 awal. Sosok perempuan dengan hijab yang menutupi dada. Apakah ini keanehan?

Jika melihat sosok dengan pakaian seperti itu di masa lalu, tentu narasi jilbab adalah dari Arab terpatahkan. Karena nyatanya, beliau sudah menggunakannya sejak dulu. Jilbab adalah ajaran Islam, bukan budaya Arab.

Kita tidak berbicara tentang pakaiannya saja, tapi perannya yang besar dan tak kalah penting. Karena tidak ada (atau tidak mungkin ada) Hari Rahmah El Yunisiah, tentu menarik bagi kita untuk dalami sejarahnya dan mengangkat hikmah. Lebih jauh, sosok perempuan Muslimah semakin bangga dengan hijab yang seutuhnya, bukan seadanya saja.

Rahmah El Yunisiah lahir pada 20 Desember 1900 di Padang Panjang. Seperti Buya Hamka, dia tidak lama belajar di sekolah formal. Dia hanya belajar selama 3 tahun. Singkatnya belajar di sekolah formal bukan berarti singkatnya belajar di kehidupan. Buktinya, dia tetap belajar dengan para guru. Salah satunya kepada Haji Abdul Karim Amrullah, ayahnya Buya Hamka. Dia belajar Bahasa Arab, fiqih, ushul fiqih, dan kedudukan wanita.

Selain itu dia juga belajar di Diniyyah School, sekolah yang didirikan oleh kedua kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid. Bukan hanya imu agama. Dia pun belajar berbagai keterampilan seperti olahraga, bertenun tradisional, dan jahit-menjahit.

Apa-apa yang dia pelajari dari para guru, turut mempengaruhinya dalam mendirikan Diniyyah Puteri School. Sekolah ini didirikan pada 1 November 1923. Bayangkan di usia 23 tahun, beliau sudah mendirikan sekolah. Zaman sekarang, usia 23 tahun baru lulus kuliah. Berbeda sekali.

Perannya dalam sejarah bangsa begitu besar. Bukan hanya sebatas pendidikan perempuan saja, beliau juga turut aktif dalam politik, bahkan militer. Pada 12 Oktober 1945, Rahmah turut mempelopori berdirinya Tentara Keamanan Rakyat.

Kontribusi dan pengaruhnya bukan hanya sebatas nasional saja. Buktinya, pada 1955 Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Syaikh Abdurrahman Taj perah berkunjung ke Diniyyah Puteri School dan tertarik dengan sistem pembelajaran di sekolah tersebut. Singkat cerita, hadirlah pendidikan khusus perempuan bernama Kulliyatal-Banat di kampus tersebut. Dua tahun kemudian, Rahmah El-Yunisiah mendapatkan gelar syaikah (guru besar wanita) dari Universitas Al-Azhar.

Sejarah beliau mungkin tidak banyak dibahas seperti tokoh perempuan lainnya. Tapi bukan berarti peran beliau tidak lebih besar. Maka penting bagi kita untuk mempelajari sejarah. Bukan untuk terjebak dengan nostalgia masa lalu, tapi untuk menjadikannya sebagai energi kebangkitan. Ketik saja nama Rahmah El Yunisiah di Google, lalu baca di berbagai referensi lainnya. Tentu akan lebih dalam jika membaca dari berbagai buku yang lebih utuh.

Jika Rahmah El Yunisiah bisa mendirikan sekolah di usia 23 tahun, visi apa yang kita tanamkan untuk generasi kini di usia yang sama?

Share This

Share This

Share this post with your friends!