Interaksi antar makhluk biasanya dilakukan dengan bertemu dan ngobrol. Namun, makin berkembangnya zaman makin beragam pula cara berinteraksi yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah menggunakan media sosial. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, media sosial adalah laman atau aplikasi yang memungkinkan pengguna dapat membuat dan berbagi isi atau terlibat dalam jaringan sosial. Dalam arti lain, tentu media sosial adalah tempat berinteraksi tanpa harus bertemu langsung.
Sifat media sosial yang tak memerlukan pertemuan langsung para penggunanya, sebetulnya memberi banyak kemudahan untuk berbagai keperluan. Namun hari ini ternyata tak sedikit juga tindakan tercela yang terjadi karena penggunaan media sosial yang tidak tepat. Lantas bagaimana adab media sosial dalam tinjauan ajaran Islam?
Jika diamati, dalam Al-Qur’an sebetulnya kita dapat menemukan banyak kata kunci tentang interaksi. Salah satunya dalam surat Al-Hajj ayat 30, Allah memerintahkan untuk tidak berkata dusta atau bohong:
ذٰلِكَ وَمَنْ يُّعَظِّمْ حُرُمٰتِ اللّٰهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ وَاُحِلَّتْ لَكُمُ الْاَنْعَامُ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْاَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ ۙ
Demikianlah (petunjuk dan perintah Allah). Siapa yang mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (ḥurumāt)500) lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Semua hewan ternak telah dihalalkan bagi kamu, kecuali yang diterangkan kepadamu (keharamannya). Maka, jauhilah (penyembahan) berhala-berhala yang najis itu dan jauhi (pula) perkataan dusta.
(Al-Ḥajj [22]:30)
Kata kunci tersebut tentu dapat kita gunakan dalam adab bermedia sosial, yaitu untuk berhati-hati dalam berkata atau mengirimkan sesuatu agar tidak berdusta.
Selain itu, kita juga tidak perlu mencari kesalahan orang lain (tajassus) dan membicarakan aib orang lain (ghibah). Hal ini ada pada Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
(Al-Ḥujurāt [49]:12)
Banyak pula kasus pencemaran nama baik yang bermula dari media sosial. Padahal dalam berinteraksi kita perlu menghindari mengolok-olok atau merendahkan orang lain (sukhriyah). Hal ini bukan hanya karena termasuk perbuatan tercela, tetapi juga karena bisa jadi kita tak lebih baik dari orang yang kita rendahkan. Allah pun menurunkan ayat perihal tersebut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik699) setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim.
(Al-Ḥujurāt [49]:11)
Mempelajari isi al-qur’an ternyata dapat menjadi tuntunan kita dalam bermain media sosial. Pada dasarnya kita harus sadar bahwa media sosial hanyalah sarana lain, tetapi intinya tetap pada interaksi antarmakhluk. Maka, perlu hati-hati dalam berkata, menulis, dan mengirimkan apapun dalam media sosial.