Sudah berapa lama kamu eksis di dunia social media? Jika lebih dari 10 tahun, atau bahkan lebih dari 15 tahun, bisa dipastikan kamu berada di era dimana di smartphone wajib ada 3 aplikasi: Facebook, BlackBerry Messenger (BBM) dan Twitter. 3 aplikasi yang tidak berjauhan: paling tua adalah Facebook yang rilis di 2004, disusul BBM di 2005, dan Twitter pada 2006. Sampai artikel ini dirilis, Facebook dan Twitter masih berjaya.

Jika kamu adalah pengguna Instagram, kemungkinan besar kamu juga pengguna Facebook karena kedua aplikasi itu bisa diintegrasikan. Tapi belum tentu kamu pengguna twitter, karena dibandingkan dengan fitur twitter yang sekarang, tiwtter yang dulu awal rilis jelas kurang menarik. Dulu twitter hanya bisa berisi text dengan maksimal 140 karakter, sekarang menjadi 2 kali lipat dan dengan format yang lebih banyak, tidak sekedar teks saja.

User-Friendly

Data pengguna twitter secara global di pertengahan tahun 2021 sebanyak 206 juta, sepersepuluh dari pengguna Instagram. Dilihat dari data terpaut jauh, tapi itulah yang membuat twitter digemari. Pengguna twitter dianggap lebih terkurasi dibandingkan dengan facebook dan instagram. Kenapa? Karena tidak semua orang di berbagai kalangan terampil dalam hal story telling, karena teks tetap menjadi format utama walaupun sekarang sudah bisa melampirkan link, foto dan video di twitter.

Fitur yang tidak sebanyak facebook dan instagram justru membuat twitter lebih user friendly. Tampilan yang sederhana dan kamu bisa meng-custom-nya. Pengalaman berinteraksi di twitter berbeda dengan social media lainnya. Aplikasi yang ditemukan oleh Jack Dorsey ini sejak awal memposisikan aplikasi ini di genre microblogging. Jadi tidak aneh ketika di twitter kamu melihat orang membagikan rentetan konten bersambung di satu waktu, itu sudah menjadi hal lumrah dan menjadi daya tarik pengguna di Indonesia. Itulah kenapa tontontan TV yang berseri-seri dan panjang episode-nya sangat digandrungi bukan oleh pasar Indonesia?

Engagement

Banyak organisasi atau public figure memposisikan twitter sebagai medium engagement-nya. Mereka menggunakan Facebook dan Instagram sebagai showcase mereka, sedangkan twitter diposisikan sebagai CS. Itulah kenapa tidak jarang kita lihat aduan, komplain, atau komunikasi antara penyedia jasa dan pelanggan berseliweran di twitter. Di era dimana social media exposure menjadi krusial ini, ketika tidak responsif menanggapi pasar, maka akan cepat ditinggalkan. Walaupun social media seperti Instagram mempunya fitur chat, tapi sudah menjadi lumrah ketika berinteraksi lebih nyaman di twitter.

Build Community

Twitter sangat mendukung movement komunitas. 2 tahun lalu, tepatnya di November 2020, twitter merilis fitur twitter space yang memungkinkan kita membuat pecakapan langsung dengan sampai 600 orang dengan host dan co-host. Ini merupakan major feature dari twitter. Bayangkan kita bisa berkomunikasi dengan siapapun, dari manapun, secara live, bisa berinteraksi, hanya menggunakan akun twitter. Walaupun hanya suara, twitter space justru menjadi unik karena serasa seperti live podcast atau radio. Dan salah satu fitur dukungan komunitas adalah kita bisa mencari konten atau komunitas berdasarkan lokasi.

Trend Detector

Apa yang “berisik” atau menjadi perbincangan banyak netizen dirangkum oleh twitter menjadi topik trending. Twitter adalah shortcut untuk kamu yang ingin tahu apa yang sedang trending, baik secara global atau yang sedang trend di Indonesia. Bahkan tanpa login-pun, ketika kamu akses twitter.com, maka akan ditampilkan trend terkini. Trend yang lucu, serius, menegangkan, menyedihkan sampai yang memotivasi menjadi konsumsi sehar-hari di twitter.

Untuk kamu yang belum mempunyai akun twitter, silakan mencoba aplikasi social media yang sudah eksis lebih dari 15 tahun ini. Mungkin akan menjadi pilihan baru untuk kamu yang sudah overload dengan konten-konten berbasis visual.

Share This

Share This

Share this post with your friends!