Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu pepatah berkata. Tapi sepertinya pepatah akan tetap menjadi kata saja apabila tidak dimaknai sebagaimana mestinya. Lihat saja, banyak guru yang tidak dihargai oleh siswanya. Sebaliknya, tidak sedikit guru yang hanya mengajar sesukanya, sewajarnya, dan semaunya saja.
Guru memang profesi mulia. Kita tidak perlu berdebat perihal itu. Tapi profesi dijalani oleh manusia yang tidak sempurna. Banyak guru yang berlindung dibalik kemuliaan profesi dan berlaku biasa-biasa saja. Tapi tidak sedikit juga guru menjadikan kemuliaan sebagai motivasi baginya untuk menjadi sebenarnya pahlawan tanpa tanda jasa.
Guru adalah pendidik, pengajar, dan pengayom. Harapannya begitu. Guru bukan hanya mengajar di kelas saja, tapi juga memberikan kesan bagi siswa hingga di rumah. Bahkan ada banyak cara lain guru untuk menebarkan manfaat seluas-luasnya. Dengan cara apa? Menulis.
Allah memberikan setiap dari kita 3 potensi kebaikan. Perbuatan, lisan, dan tulisan. Setiap dari kita bisa berbuat baik. Setiap dari kita juga berucap dengan lisan baik. Tapi banyak yang mengabaikan potensi kebaikan ketiga, yaitu tulisan. Contohnya dengan ucapan:
“Duh, saya nggak bisa menulis.”
“Orangtua saya tidak menulis. Mana bisa saya menjadi penulis.”
“Saya nggak passion menulis.”
Banyak lagi alasan ada dan pembenaran yang membuat potensi kebaikan ketiga ini terbaikan. Padahal Allah Maha Adil. Dia berikan setiap dari kita 3 modal dasar potensi kebaikan. Pertanyannya, maukah kita memanfaatkan potensi yang diberikan sebaik-baiknya?
Guru yang menulis adalah sebuah kemuliaan tersendiri. Guru yang ingin memanfaatkan potensi yang Allah titipkan dengan sebaik-baiknya. Apa saja manfaat dari guru yang menulis?
1. Meningkatkan Kualitas Diri
Ada banyak cara manusia belajar. Mulai dari mendengar, membaca, melakukan, dan termasuk menulis. Apabila seseorang menulis, dia akan mengingat kembali apa yang dia alami dan memikirkannya dengan sedemikian rupa agar tersampaikan dengan baik melalui tulisan.
Guru memang pengajar. Bebannya tentu saja tidak ringan. Apabila guru enggan belajar dan meningkatkan kualitas diri, maka apa yang kelak akan diajarkan ke muridnya? Menulis adalah salah satu cara guru untuk belajar dan meningkatkan kualitas diri. Baik itu menulis buku, penelitian, atau catatan hikmah tersendiri.
2. Menjaga Kemuliaan Guru di Mata Murid
Pada kasus tertentu, banyak murid yang tidak beradab kepada guru karena tidak kenal siapa gurunya. Tapi pada kasus lainnya, memang pada dasarnya murid tersebut tidak beradab kepada banyak orang. Lingkungan yang tidak mendidik membuat dia pun jadi tidak terdidik.
Guru yang menulis dan tulisannya dibaca oleh murid akan memberikan pandangan baru kepada muridnya bahwa gurunya ini sedang melakukan hal yang tidak biasa. Bahkan guru juga bisa mengajak muridnya untuk menulis bersama seperti halnya Miss Gruwell di film yang diangkat dari kisah nyata, Freedom Writer.
Karya adalah nilai tambah yang tidak semua orang mau dan mampu melakukan. Karya juga bentuk bagi seseorang, terutama guru untuk menjaga marwahnya. Guru menyadari bahwa guru mulia bukan hanya status yang dia sandang saja, tapi dengan apa yang dia lakukan. Maka guru mulia dan semakin mulia dengan karya layak menjadi motivasi.
Seorang guru memperbanyak karya agar kelak mendapatkan peluang belajar lebih banyak. Sehingga perlahan tapi pasti, dia pun meningkatkan kualitas dirinya. Ujung-ujungnya adalah untuk mengajar muridnya lebih baik.
3. Menambah Poin
Sistem pendidikan di Indonesia memberikan kesempatan apabila seorang guru yang rajin menulis, terutama buku akan mendapatkan poin tambahan. Poin ini apabila diakumulasikan akan membantu dalam jenjang karir seorang guru. Termasuk pendapatan guru tersebut. Tentu ini hanya bonus saja. Boleh saja bagi seorang guru untuk mencari hal tersebut, tapi jangan lupa bahwa guru adalah profesi mulia, maka tetaplah menjaga kemuliaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Bekerja bukan hanya untuk gaji, tapi memberikan inspirasi.
4. Memperluas Manfaat
Berkembangnya teknologi membuat siapa pun bisa memperluas jangkauannya, termasuk jangkauan kebaikan. Guru yang menulis bisa memperluas manfaatnya dengan berkarya di social media, blog, atau platform online lainnya.
Proses belajar formal memang terjadi di ruang kelas saja. Tapi kita harus semakin menyadari bahwa belajar bukan hanya di sekolah saja. Guru yang meninggalkan kesan mendalam di ruang kelas, bahkan dengan sentuhan personal lain di luar kelas seperti mendengar curhat akan membuat siswa semakin hormat kepada gurunya. Menulis adalah salah satunya agar proses belajar dan manfaat lebih luas.
5. Membuka Pintu Kolaborasi
Guru yang menulis berarti sedang membuka pintu kolaborasi. Karena bukan tidak mungkin dengan curhatan, cerita, dan pengalaman yang dia bagikan melalui tulisan akan mampu menggerakkan pembaca untuk melakukan hal yang sama, bahkan berkolaborasi dengan penulis. Bukan tidak mungkin di antara pembaca adalah pemangku kepentingan yang kelak akan menghubungi guru tersebut. Bisa jadi kan?
Guru yang menulis adalah guru yang tidak ingin menjadi guru yang biasa-biasa saja. Dia memberikan hal lebih karena sadar dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dan menjadi pahlawan tidak bisa hanya berbuat yang biasa-biasa saja.
Selamat menulis, guru!