Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, tentu ada banyak pola dan cara yang kita temukan. Sebagian ada yang nyaman bagi kita menjalaninya. Sebagian yang lain tidak nyaman bagi kita, bahkan cenderung menghindarinya.

Coba perhatikan percakapan berikut.

“Masjid di daerah sini yang nyaman di mana ya?”

“Di sini ada beberapa masjid. Mushola di sini tempatnya ramai. Ada anak kecil. Masjid yang agak ujung saja ada AC-nya. Tapi kebanyakan orang yang sudah tua. Saya kadang-kadang shalat di mushola, kadang di masjid sih. Tergantung situasi saja.

Pola komunikasi yang santai. Memberi tahu apa yang diketahui.

Tapi bagaimana dengan ini.

“Shalat subuh itu sebanrnya ada qunut nggak sih?”

“Nggak ada. Qunut subuh itu bid’ah!”

“Tapi ada yang berpendapat sunnah loh.”

“Tidak ada. Itu bid’ah. Tidak usah melakukannya.”

“Tapi aku melakukannya loh!”

“Kamu masuk neraka!”

Nah coba rasakan perbedaan antara pola komunikasi pertama dengan yang kedua. Lebih nyaman mana?

Komunikasi kedua adalah debat. Sebenarnya berdebat adalah hal yang wajar dan diperbolehkan. Bukankah dengan berdebat kita akan belajar untuk berpendapat? Bahkan berdebat pun adalah ajang bagi kita untuk berpikir cepat dan kritis. Kita juga belajar untuk menerima pendapat yang berbeda. Pertanyaannya, bagaimana sih adab dalam berdebat?

Dalam Kitab Adab Al-Ikhtilaf Fil Islam karangan Thaha Jabir Fayyad Al Alwani yang dilansir oleh bincangsyariah.com, ada beberapa adab dalam berdebat :

  1. Memulai dengan husnudzon
  2. Menghargai pendapat orang lain sejauh pendapat tersebut mempunyai dalil dari sumber yang kuat
  3. Tidak memaksakan kehendak pendapatnya yang paling benar.
  4. Lapang dada menerima kritik yang tersampaikan untuk membetulkan kesalahan.
  5. Memilih ucapan yang terbaik dan terbagus dalam berdiskusi dengan sesama saudara muslim.
  6. Tidak berkata kasar dan mencaci
  7. Mengusung semangat untuk menemukan yang lebih baik atau lebih benar, bukan mengalahkan atau menjatuhkan
  8. Akhiri dengan komitmen untuk menjalankan kebenaran yang ditemukan bersama

Adab-adab berdebat ini bisa jadi belum bisa sepenuhnya kita lakukan. Tapi setidaknya, pelajari terlebih dahulu, dan perlahan amalkan. Agar kelak kita lebih nyaman berinteraksi dan menjalin silaturahmi dengan orang yang berbeda pendapat.

Toh jika dalam berdebat kita berbeda pendapat, itu adalah yang hal wajar. Saling memaklumi dan menghargai saja. Kita manusia pasti punya keterbatasan. Apalagi dalam memahami agama yang begitu luas ini. Tapi tentu, ingat lagi firman Allah berikut.

Jika kalian berselisih tentang suatu perkara, kembalikanlah perselisihan itu kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (As-Sunnah)
(QS An-nisa: 59)

Rendahkan hati dan berprinsip wallahu a’lam bis sawab.

Diskusi lebih baik dibandingkan berdebat. Apalagi jika berdebat yang sia-sia. Tujuannya hanya untuk menjatuhkan pihak lawan, lalu menang dan membanggakan kemenangan. Coba tanya pada hati, sebenarnya apa sih yang kita cari? Ref

Share This

Share This

Share this post with your friends!