Ada banyak sekali keutamaan para penghafal Al-Quran. Salah satu yang kerap digaungkan adalah kelak akan menjadi syafaat dan mampu memberikan mahkota bagi orangtuanya.

Siapa yang menghafal Al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya,

Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan Al-Quran.
(HR. Hakim)

Mengetahui keutaamannya yang begitu mulia ini tentu mampu mendorong seseorang untuk menjadi penghafal Al-Quran. Pertanyaannya, bagaimana caranya? Pertanyaan itu tidak akan dijawab langkah demi langkah di tulisan ini. Tapi semoga ada makna yang Anda dapatkan tentang menjadi “penghafal” Al-Quran.

1. Tumbuhkan Niat, Mulailah Bermimpi

Al-Quran adalah kitab suci yang begitu mulia. Begitu suci dan mulianya, masing-masing orang punya caranya sendiri untuk memuliakannya. Misalkan menaruhnya di tempat yang baik. Saking baiknya, ditaruh di lemari yang tinggi dan perlahan malah berdebu.

Kemuliaan yang begitu tinggi pada Al-Quran ini kerapkali juga membuat manusia merasa begitu jauh dengan Al-Quran. Banyak yang beranggapan.

“Saya masih penuh dosa. Tidak layak bersama Al-Quran.”

“Duh saya baca Al-Quran saja masih terbata-bata. Bagaimana bisa menjadi penghafal Quran.”

“Boro-boro hafal 30 juz. Juz 30 aja masih lupa-lupa.”

Kalimat-kalimat tadi mungkin sering kita dengar. Atau mungkin malah kita sendiri yang merasa seperti itu. Bisa jadi?

Betul bahwa Al-Quran ini begitu mulia. Tapi keliru jika kita merasa tidak pantas bersama Al-Quran. Karena dengan bersama Al-Quran maka kita menyucikan diri. Tumbuhkan niat agar lebih dekat dengan Al-Quran. Mulailah bermimpi menjadi penghafal Al-Quran walau dirasa mustahil. Jika benar itu tujuan yang jujur, maka percayalah Allah akan memberikan jalan.

2. Bukti Cinta adalah Interaksi

Jika kita mencintai seseorang, maka hal sederhana yang dilakukan adalah berinteraksi. Interaksinya mungkin sederhana saja. Basa-basi atau bertanya kabar. Perlahan, akan semakin meningkat. Saling mengenali, memberi hadiah, dan seterusnya.

Al-Quran pun harusnya begitu. Jika benar kita mengaku cinta dengan Al-Quran, ya harus dibuktikan dengan interaksi. Baik interaksi secara kuanitas dan kualitas. Interaksi secara kuanititas seperti berapa halaman yang dibaca setiap hari. Sedangkan interaksi secara kualitas seperti apa amalan Al-Quran yang bisa dilakukan setiap hari.

3. Menjadi Ahli Al-Quran

Dalam sebuah kajian, seorang Ustadz meneceritakan kegelisahanya. Banyak anak dilatih untuk menghafal Al-Quran. Tapi yang terjadi bukan menghafal atau menambah hafalan, tapi berpindah hafalan. Misalkan hafal juz 1. Masuk ke hafalan juz 2, hafalan juz 1 malah lupa. Ini adalah fenomena yang terjadi jika seorang anak atau mungkin kita sebagai manusia dewasa hanya berfokus pada berapa jumlah hafalan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Menjadi penghafal Al-Quran tentu sebuah kemuliaan. Tapi tidak cukup “hanya” menjadi penghafal. Jadilah Ahli Al-Quran. Tingkatannya begitu tinggi, tapi bukan mustahil untuk diraih.

Jika cita-cita kita digeser sedikit dari penghafal Al-Quran menjadi Al-Quran, maka fokus kita bukan lagi hanya hafalan, tapi mencintai sepenuhnya. Menambah hafalan, mempelajari Al-Quran, dan tentu mengamalkan Al-Quran. Semoga Allah mampukan kita.

Al-Quran adalah kitab suci. Tapi bukan berarti begitu suci sehingga kita manusia penuh dosa tidak layak mendekati. Karena dengan Al-Quran kita membuktikan upaya penyucian diri.

Share This

Share This

Share this post with your friends!