Ada bumi, ada langit. Bumi adalah tempat kita berpijak di kaki, langit adalah hal yang kita lihat jauh di atas kepala. Bumi dan langit terpisah jauh. Bumi adalah tempat yang kita sentuh, tapi bagaimana dengan langit? Tak mampukah kita menyentuhnya?
Semasa sekolah, ada banyak hal yang kita pelajari. Sebagian dari yang kita pelajari sangat bermanfaat dalam kehidupan karena memang diterapkan dalam keseharian. Sebagian lainnya dengan setengah hati dipelajari karena merasa tidak ada manfaatnya dalam keseharian. Atau bahkan kendalanya adalah karena teori yang diajarkan begitu melangit. Konsepnya begitu sulit untuk dipahami.
Ada seorang guru matematika yang menulis. Namanya Febriandrini. Dia sudah menulis buku. Salah satunya adalah Evolusi Guru dan Sekolah Abad 21. Bagaimana matematika disederhanakan dalam tulisan?
“Membuat rumus matematika yang abstrak dan mudah dimengerti. Misal tentang pangkat negatif dan positif saya kaitkan dengan halal dan haram. Kalau kita berbuat haram, mencuri atau korupsi misal, walau dapatnya 1M itu amalnya berpangkat negatif. Kalau 2 pangkat 2 sama dengan 4, 2 pangkat negatif 2 itu sama dengan seperempat. Bayangkat kalau pangkat negatif 1M, nilainya kan kecil sekali.
Membumikan konsep adalah tentang bagaimana cara kita menyederhakan konsep yang dirasa begitu melangit. Menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti, menggunakan perumpamaan, dan tentu dengan berbagai latihan.
Bahasa yang mudah dimengerti adalah kunci pertama. Karena bahasa adalah hal paling pertama yang dilihat, dibaca, dan didengar. Misalkan ada seseorang yang menjelaskan dengan bahasa Jerman kepada Anda yang tidak bisa bahasa Jerman. Anda pasti bingung bukan? Padahal dia hanya bertanya hal sederhana seperti “di mana toilet terdekat?”
Gunakan perumpamaan agar semakin paham. Teacher Andri tadi sudah menggambarkan dalam contoh pangkat negatif dan positif dalam konsep halal dan haram. Contoh lainnya tentang kekekalan energi. Bahwa energi tidak bisa dimusnahkan, tapi hanya berpindah bentuk. Perumpamaan apa yang cocok dengan teori ini? Kebaikan. Saat kita melakukan kebaikan, kebaikan itu pasti akan terbalaskan. Bentuknya tidak akan persis dengan apa yang kita lakukan. Misalkan sedekah. Saat kita bersedekah, balasannya mungkin bukan uang dengan nomimal yang berlipat ganda. Tapi bisa dengan kesehatan yang semakin bertambah atau terhindari dari keburukan.
Dan terakhir, teruslah latihan. Membumikan konsep memang bukan kurikulum sekolah. Membumikan konsep adalah usaha lebih yang dilakukan oleh para pengajar, bahkan siapa pun kita agar sesuatu hal lebih mudah dipahami. Agar manfaat yang dinilai abstrak bisa kongkrit dan terlihat jelas. Agar kita pun semakin semangat untuk terus belajar. Perbanyak latihan dengan menulis, deep thinking, membaca berbagai referensi, diskusi dengan sesama pengajar, bahkan riset langsung ke lapangan.
Kita seringkali enggan mempelajari suatu hal karena merasa tidak ada manfaatnya dalam kehidupan. Dalam bahasa lainnya “untungnya buat saya apa?” Tapi jika kita paham apa manfaatnya, berbagai usaha pasti akan diupayakan.
Kita harusnya bisa menjadi puzzle sekaligus jembatan. Penghubung kebaikan demi kebaikan. Penyederhana suatu hal yang sulit dipahami. Agar semakin banyak manfaat yang tersebarkan
Trackbacks/Pingbacks