Penekanan implementasi pendidikan pada kebebasan dan optimalisasi potensi merupakan wujud komitmen pendidikan agar dapat lebih baik, dan tentunya menumbuhkan manusia-manusia yang lebih berkualitas. Jika pada lingkungan sekolah dan guru ada banyak “budaya” yang berubah demi mensukseskan konsep Merdeka Belajar, sesuai keinginan untuk kolaborasi maka siswa juga dilibatkan bukan hanya ketika pembelajaran berlangsung. Sebelum guru menyampaikan materi, siswa juga diajak untuk merancang tujuan pembelajaran agar nantinya selama pembelajaran berlangsung pun siswa dapat memahami nilai dan esensi hal-hal yang sedang mereka pelajari. Itikad ini tentu saja untuk memutus anggapan siswa yang selama ini merasa bahwa belajar hanyalah sebuah kewajiban.

Mewujudkan pembelajaran penuh nilai, berarti guru juga harus berkomitmen untuk mengawal agar siswa memahami dan akhirnya dapat merefleksi diri dari pembelajaran yang telah berlangsung. Jika sejak awal siswa terlibat dalam menentukan tujuan pembelajaran, pada prosesnya siswa akan terus menemukan motivasi internal untuk mencapai tujuan tersebut. Motivasi tersebut akan mendorong sisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih disiplin secara positif dan sadar, bukan hanya disiplin demi menggugurkan kewajiban.

Salah satu upaya agar siswa dapat mencapai fase pembelajaran yang bermakna, guru dapat mendorong siswa untuk aktif membuat jurnal kemajuan diri. Jurnal ini bukan hanya berisi kemajuan kemampuan secara akademik, tetapi juga perubahan karakter yang lebih baik. Tentu saja siswa perlu juga menuliskan kemajuan diri dalam menemukan nilai-nilai baik selama belajar, hingga perubahan kebiasaan yang sesuai dengan pembelajaran yang telah dirasakan. Jurnal ini akan membantu murid dalam memahami diri dan dapat memetakan kelebihan untuk terus ditingkatkan, dan kelemahan yang dapat diperbaiki dengan terarah.

Setelah memerbaiki konsep pembelajaran pada siswa, konsep Merdeka Belajar juga tidak mengabaikan peran orang tua untuk terlibat aktif dalam mengetahui dan mendampingin pembelajaran anak. Anggapan bahwa pembelajaran menjadi tanggung jawab guru dan sekolah sepenuhnya pada akhirnya dipatahkan, karena guru dapat memberikan rekomendasi pada orang tua agar pendampingan anak di rumah dan sekolah dapat selaras, sehingga pengembangan diri anak juga optimal. Orang tua juga akan mendapat ruang untuk dapat mengetahui dan memberi apresiasi pada potensi anak, lewat acara maupun kegiatan lain yang memfasilitasi orang tua untuk mengetahui poensi anak.

Pada konsep Merdeka Belajar, dapat dilihat bahwa tiap komponennya begitu jauh dari kata “bosan” yang biasanya begitu melekat pada proses pembelajaran anak. Dinamika dan pelibatan semua pihak dalam Merdeka Belajar diharapkan dapat membantu siswa untuk lebih berkembang, dan guru serta sekolah juga dapat lebih “merdeka” dalam mengadakan pendidikan penuh nilai.

Share This

Share This

Share this post with your friends!