Teknologi berkembang begitu pesat. Beruntung jika kita bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tapi tidak cukup memanfaatkan teknologi hanya untuk memudahkan kehidupan. Harusnya dengan teknologi, dakwah pun bisa berkembang begitu pesat.

Tak jarang kita mendengar alasan-alasan berupa pembenaran atas ketidakmampuan untuk berdakwah.

“Aku masih banyak dosa, nggak pantas berdakwah.”

“Aku bukan ulama, mana bisa berdakwah.”

“Aku nggak punya ilmu, mau berdakwah apa?”

Beragam alasan lainnya tidak tersebutkan. Bisa jadi itu benar pada kondisi tertentu. Tapi jangan sampai kondisi serba terbatas membuat kita menjauh dari misi dakwah. Bukankah salah satu visi hidup kita adalah menjadi khalifah yang bermakna pengatur dalam bumi ini? Maka dakwah adalah bagian dari visi khalifah.

Kita harus mendudukan makna dakwah secara sederhana agar setiap dari kita punya pemahaman yang sama. Dakwah berasal dari kata da’i yang bermakna mengajak. Mengajak ke mana? Tentu mengajak ke arah kebaikan. Bukankah mengajak adalah perkara yang mudah?

Tidak ada keharusan bahwa mengajak kebaikan harus paham Al-Quran 30 juz. Karena nabi pernah berpesan, sampaikanlah walau satu ayat. Tentu yang disampaikan bukan sembarang ayat dengan makna yang kita atur sendiri. Penting bagi kita untuk paham dengan apa yang akan kita sampaikan agar tidak salah kaprah nantinya.

Agar tidak salah atas “satu ayat yang disampaikan”, penting bagi kita untuk berada pada aktivitas ilmu. Tidak cukup bermodalkan kesoktahuan saja lalu memviralkan yang belum tentu benar. Berilmu, beradab, dan berguru.

Apalagi di zaman sekarang yang serba dimudahkan dengan teknologi. Kita bisa mengaji dan berdakwah dalam waktu yang bersamaan. Menonton kajian di Youtube dan mengajak orang untuk berilmu bersama. Mendapatkan info kajian di grup whatsapp dan mengajak anggota grup untuk kajian bersama. Menemukan solusi atas sebuah masalah di Instagram, lalu mention teman di kolom komentar.

Terkhusus di Instagram, ada 3 cara paling mudah untuk berdakwah.

  1. Menjadi kreator dengan konten sendiri
  2. Me-repost konten dakwah dari orang lain
  3. Mention teman di kolom komentar

Dalam sebuah silaturahmi, seorang teman berpesan.

“Jangan mencari-cari alasan untuk bingung di jalan dakwah yang mana. Karena peluang dakwah itu masih terbuka lebar. Tinggal kita mau ambil peran di mana.”

Benar katanya. Bahwa ada banyak peluang dakwah. Di social media, sekolah, kampus, jalanan, hingga rumah sendiri. Lahannya ada. Tinggal digarap saja sebaik-baiknya. Tentu dengan ilmu dan adab juga.

Dakwah bukan berarti kita manusia yang sempurna. Karena dakwah adalah bukti cinta kita kepada agama ini. Cintailah sebaik-baiknya dengan menyebarkan keindahannya.

Mari berdakwah, bersama jamaah, menuju jannah.

Share This

Share This

Share this post with your friends!